Hari masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi ketika dua puluh empat buah mikrolet memasuki halaman Bintaraloka.
Ya, mobil biru yang menjadi ciri khas angkutan umum kota Malang itu sudah siap membawa siswa kelas delapan untuk melakukan Outdoor Learning (ODL) ke Candi Kidal dan Candi Jago Kabupaten Malang.
ODL adalah pembelajaran yang dilakukan di luar sekolah. ODL kali ini merupakan salah satu program kegiatan kokurikuler kelas delapan yang mengambil tema kearifan lokal pembuatan batik Malangan.

Kegiatan hari ini diikuti oleh seluruh siswa kelas delapan dengan didampingi oleh wali kelas masing-masing.
Sebelum pemberangkatan rombongan, Bapak Kepala SMP Negeri 3 Malang memberikan pembekalan pada seluruh peserta yang intinya agar siswa mengikuti kegiatan dengan sungguh-sungguh dan selalu membawa nama baik sekolah.
Tak lupa beliau juga berpesan pada Bapak Sopir mikrolet agar sabar membawa anak anak, dan tidak ngebut di perjalanan.

Sekitar setengah delapan pagi rombongan mikrolet meninggalkan SMP Negeri 3 Malang menuju Tumpang Kabupaten Malang.
Mengapa harus ke Candi Jago dan Candi Kidal? Kedua candi tersebut dipilih sebagai destinasi karena lokasinya yang dekat dengan kota Malang dan mempunyai relief yang indah yang sering dijadikan inspirasi motif Batik Malangan.
Rombongan tiba di lokasi sekitar 40 menit kemudian, dan langsung diajak ke area Candi oleh korlap acara Bapak Mubin dan Ibu Richa.

Dijelaskan oleh guide kami pagi itu yaitu Pak Imam bahwa Candi Kidal adalah candi Hindu peninggalan Kerajaan Tumapel yang dibangun sekitar tahun 1248 Masehi.
Candi ini terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, dan dibangun sebagai penghormatan kepada Raja Anusapati.

Dinamakan candi kidal disamping karena berada di desa Rejokidal, Anusapati adalah seorang anak tiri yang sejak kecil mendapatkan perlakuan berbeda dari Ken Arok. Dalam bahasa Jawa dianak tirikan, tidak diperhatikan, diistilahkan dengan dikiwakno (kiwa = kiri= kidal).
Di Candi Kidal bisa kita temui relief cerita Garudeya yang memuat berbagai pesan moral, seperti pembebasan dari perbudakan juga pesan untuk menghormati ibu yang telah melahirkan kita.
“Lambang negara kita Garuda Pancasila mengambil inspirasi dari cerita Garudeya ini,” tutur Pak Imam.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami menyempatkan diri membuat foto dokumentasi perkelas dengan arahan Pak Mubin.

Mengenai Candi Jago dijelaskan oleh Pak Imam bahwa candi ini adalah juga peninggalan bersejarah Kerajaan Tumapel.
Candi dengan corak Hindu Buddha ini dibangun pada abad ke-13 (tahun 1268–1280) untuk menghormati Raja Wisnuwardhana.
Pada dinding candi Jago terdapat relief yang sangat indah dengan cerita fabel Tantri Kamandaka, Kunjarakarna dan kisah-kisah epos pewayangan.

Saat kami berkunjung kebetulan candi sedang dalam perbaikan sehingga hanya sebagian yang bisa mengamati candi dari dekat.
Semoga ODL yang dilaksanakan bisa mengajak siswa lebih mengenal sejarah dan kearifan lokal budaya Malang sekaligus mencintai dan melestarikannya
Azan Duhur baru saja berkumandang ketika kami kembali memasuki halaman Bintaraloka. Sebuah perjalanan yang luar biasa. ODL yang berlangsung kurang lebih empat jam membawa begitu banyak cerita.

“Asyik,”
“Menyenangkan,” ungkap beberapa siswa begitu turun dari mikrolet.
“Semoga ke depan ada ODL lagi ya, Bu,” ungkap Audrey siswa kelas 8.7 dengan wajah ceria.

Akhirnyanya semoga ODL yang dilaksanakan bisa mengajak siswa lebih mengenal sejarah dan kearifan lokal budaya Malang sekaligus mencintai dan melestarikannya.


Melalui Outdoor Learning bertema kearifan lokal, siswa SMP Negeri 3 Malang tidak hanya belajar mengenal warisan budaya daerahnya, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga, cinta, dan tanggung jawab untuk melestarikannya di tengah arus perubahan zaman. SMPN 3 Malang OKE