Bukan Sekedar Makan Bersama, Pelaksanaan MBG di Bumi Bintaraloka

Pengambilan makanan dari mobil SPPG, dokumentasi Vigil

Senin (10/11) adalah hari pertama pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bumi Bintaraloka. Program pemerintah yang dicanangkan sejak 6 Januari 2025 ini mempunyai tujuan untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, yang diharapkan dapat mendorong lahirnya Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang unggul, sehat, dan cerdas.

Informasi tentang program MBG untuk Bintaraloka sudah datang kira- kira dua minggu yang lalu. Begitu mendapatkan informasi, sekolah gerak cepat dengan membentuk panitia, piket serta melakukan pendataan tentang alergi makanan dari siswa.

Siswa siap membawa makanan menuju kelas, dokumentasi pribadi

Panitia dan piket dibentuk karena mendistribusikan makanan pada 800 lebih siswa bukan hal yang mudah. Super sibuk pastinya, lebih-lebih makanan harus segera habis dan tempat makan (ompreng) harus segera dikembalikan.

Selain pembentukan piket dan panitia, persiapan sekolah sebelum pelaksanaan program ini adalah mengadakan sosialisasi dan pengarahan pada siswa untuk menghargai makanan yang diberikan dengan memakannya sampai habis. 

Jika karena terpaksa atau tidak suka dengan makanan yang diberikan, siswa boleh memberikan jatah makannya pada teman, atau jika tidak ada yang mau, makanan boleh dikembalikan dalam kondisi yang baik.

Guru piket membantu kelancaran distribusi makanan, dokumentasi Vigil

Dalam sosialisasi juga diterangkan bagaimana teknik pembagian makanan. Pada prinsipnya tiap kelas ada enam siswa yang piket secara bergantian tiap hari. Tugas regu piket adalah mengambil jatah makan yang sudah diikat lima-lima dari mobil dan membagikan ke teman- teman dalam satu kelas.

Berbagi makanan, dokumentasi pribadi

Sesudah makan siswa ini bertugas mengikat kembali ompreng (tempat makan) yang kosong untuk dikembalikan ke mobil MBG.

Lalu apa tugas piket guru dan panitia? Panitia MBG yang dikomandani Ibu Utin, Ibu Fathim, Ibu Ahfi, Pak Imron, Ibu Ami dan Suster Ratna ini dalam tugasnya dibantu oleh sepuluh guru yang piket secara bergantian.

Tugas para guru adalah mengarahkan siswa di titik-titik tertentu, memperlancar distribusi makanan dan yang sangat penting adalah mengecek kelayakan makanan untuk dikonsumsi.

Hari pertama MBG berjalan lancar. Mungkin karena hari pertama jadi terasa begitu repot, juga terpaksa memotong jam pelajaran.

Siswa tampak begitu gembira makan bersama hari itu. Menunya nasi kuning, oseng sayuran ,bali telor, tahu bulat dan buah yang sudah diinfokan sebelumnya oleh SPPG Batik Celaket yang menanganinya.

“Hmm, enak..,”

“Lauknya mantap , Bu,” ungkap beberapa siswa.

Menu MBG hari pertama, dokumentasi Bintaraloka

Tampak beberapa siswa yang merasa jatah makannya terlalu banyak, membagikan makanannya pada temannya.

“Terima kasih sudah membantu menghabiskan,” kata siswa pada temannya.

Makan siang bersama berakhir kira kira saat Duhur tiba. Ompreng segera dikemas rapi dan dikembalikan ke mobil SPPG.

Mengembalikan ompreng, dokumentasi pribadi

Di sore hari sebelum pulang dilaksanakan rapat evaluasi pelaksanaan MBG hari itu, agar MBG di hari berikutnya bisa dilaksanakan lebih baik lagi.

Rapat evaluasi MBG, dokumentasi pribadi

Benar-benar hari yang luar biasa. Ribet, tapi dari MBG ada banyak hal yang bisa dipelajari siswa. Tentang tanggung jawab, kepedulian, suka berbagi juga selalu bersyukur atas rezeki hari ini.

4 thoughts on “Bukan Sekedar Makan Bersama, Pelaksanaan MBG di Bumi Bintaraloka”

  1. Seruuuu….. Menunya enak…Semoga anak-anak bahagia menerima MBG, bertambah sehat dan tumbuh menjadi generasi yg cerdas dan tangguh

  2. “Setiap piring yang tersaji mengandung harapan — agar tidak ada lagi siswa yang belajar dalam keadaan lapar, dan setiap anak dapat tumbuh dengan gizi, semangat, dan kasih sayang yang cukup.”

Leave a Reply to Ami Cancel Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *