Cerpen “Tangis Rindu Juang Pemuda”

Tangis Rindu Juang Pemuda
Oleh: Sefta Annisa

Ketika Jepang mulai menyerah dan melakukan pelucutan senjata, organisasi ketentaraan para pemuda tlah didirikan. Aku, Hasan juga termasuk dalam salah satunya, di dalam organisasi berletak di Surabaya, yakni BKR yang kemudian berubah menjadi TKR Pelajar. Namun, ini masih pelatihan, kami harus benar-benar lulus agar dapat melakukan perlawanan terhadap sekutu ataupun Belanda. Saat itu aku sedang bertugas di Malang, yang mungkin nantinya Belanda akan dapat menduduki wilayah itu dengan diawali oleh peperangan.

Semakin lama, nama organisasi kami berubah menjadi TRI Pelajar. 17 maret 1946, hari itu adalah hari ketika Kami diberi pengajaran oleh Bung Tomo serta Mas Isman. Ada suatu hal, yang membuatku penuh dengan sebuah keberanian yang nyata.

“Djanganlah meroentjing-roentjingkan hak lebih dahoeloe akan tetapi penoehilah kewadjiban sebagai warga negara Indonesia!”, Ucap Bung Tomo.

Mas Isman juga dielu-elukan sebagai pahlawan, dia adalah komandan TRIP kami dengan jabatan di Jawa Timur. Kadang aku selalu tersenyum haru, setiap mendengar dan memaknai sang komandan tersebut, banyak roh dalam setiap perkataannya

“Djangan elu-elu kan kami, kami boekan pahlawan, kami berlumuran darah. Jang lajak mendjadi pahlawan adalah rakjat jang teranijaja dan terdjadjah!”, Ucap Mas Isman.

Markas TRIP yang sebelumnya berletak di Surabaya, kini dipindah ke Malang. Ada 5 bataliyon, namun aku saat itu bertempat di bataliyon 5000 berkerasidenan di Malang. Sebenarnya, 17 Juli 1947 adalah hari ketika kelulusan dan kenaikan kelas diumumkan. Namun, komandan kami, Soesanto melarang kami meninggalkan Kota Malang, sebagai keamanan Kota Malang itu sendiri. Aku harus mengikuti perintah, ini demi tanah air pula. Aku mesti siap dengan serangan dadakan Belanda.

Benar dugaan kami, Belanda tlah menyerang dari daerah Besuki dan arah selatan Porong-Trawas-Lawang-Malang, pada Agresi Militer 1, yakni 21 Juli 1947. Pada hari esoknya, kami diberi pengarahan oleh staff divisi Untung Suropati. Rupanya dia ingin menjebak Belanda-Belanda itu. Sebelum Belanda menduduki Kota Malang, maka Kota itu harus dihanguskan dan dikosongkan. Malang saat itu hanyalah tanah rata. Biar mampus dirasa Belanda, mereka takkan dapat apa-apa kalau mereka menang. Tentara-tentara tempur juga tlah dikirimkan ke garis depan daerah Porong.

Pukul 03.00 dini hari, pada 31 Juli 1947, Belanda datang dengan senjata dan tank-tank yang begitu canggih. Mereka sangat mudah memasuki Kota Malang karena tlah diratakan, dan artinya Belanda harus menghadapi perlawanan kami jika ingin menduduki kekuasaan terhadap Kota Malang. Aku sangat siap saat itu, aku bertugas pada daerah Jalan Salak. Suara tembak-menembak di antara kami sudah seperti suara petir yang tengah mengamuk. Berkali-kali hampir saja ku tertembak. Namun peluru itu selalu saja luput menancapkan dirinya pada tanah, bebatuan, ataupun pepohonan.

Aku sedang menyaksikan api yang ada di jalanan, aku juga sedang menyaksikan perebutan Kota Malang ini. Aku sedang menyaksikan teman kami yang dibunuh dengan teganya oleh Belanda. Aku menangis saat itu juga, beribu keluhan menancap pada bibirku. Hingga ku tak sadar, saat itu aku ada dalam peperangan sengit. Membawa senapan, serta menembaki para perusuh. Bersembunyi, hanya melincahkan tangan dan mata. Aku berharap usahaku dan yang lain tak pernah menjadi sia-sia. Tak apa bila jantung yang masih berdetak ini hancur hanya dengan satu gerakan lincah tangan Belanda. Namun, saudara-saudara kami bisa menikmati rasa senang yang amat.

Kami cukup lama membawa senapan dan berperang, tapi raga kami tak pernah merasa lelah. Kami saling melindungi, dengan harapan diri kami sendiri ikut terlindungi. Sebuah peluru menembus kulit salah seorang di antara teman kami. Dia, Jaenudin yang juga bertugas di Jalan Salak. Aku memiliki rasa bersalah dan terimakasih terhadapnya, karena dia dan segala usahanya, aku masih dapat berperang, dia berusaha melindungiku dari peluru Belanda. Dia tewas, dengan beribu do’a dari kami. Kami benar-benar kehilangan tentara pemuda yang hebat seperti dia.

Aku begitu saja menangis di hadapan jasadnya, dia sangat berarti bagi bangsa. Lumuran darahnya itu pasti akan dikenang sebagai jiwa tulus yang sebenarnya. Aku yang meminta pada tentara lainnya untuk mengangkut jasad Jaenudin, akan kubawa dia pada rumah sakit dengan alat seadanya. Aku sangat sedih akan kejadian itu. Badanku kaku rasanya melihat rasa sakitnya saat itu. Aku kembali pada tempat bertugasku, aku melewati jalan yang kurasa Belanda tak pernah mengetahui jalan itu.

Aku sampai pada tempat bertugasku, namun aku begitu menyesal ketika harus memandangi satu persatu temanku yang tlah tergeletak tak berdaya dengan senapan yang masih bersuarakan gema merdeka. Saat itu pula, mataku tertuju pada Komandan Soesanto, dia juga berhasil ditembak oleh kawanan Belanda ketika mengendarai sepeda di Jalan Ijen. Aku merasa kesal dengan Belanda-Belanda itu. Aku ingin sekali menembaki satu persatu dari mereka hingga mereka musnah tak bersisa. Hanya beberapa dari kami yang selamat dari peperangan itu, dan akhirnya Belanda menyudahi perang sengit itu.

Terdengar kabar oleh telinga, Belanda tengah mencari tentara yang masih hidup di rumah sakit celaket tuk dijadikan tawanan. Mereka tak dapat membedakan tentara dengan PMR, mereka menjadikan 2 orang PMR sebagai tawanan. Mereka tlah dibunuh, bahkan salah satu diantaranya dibunuh dengan mencungkil matanya.

Kami benar-benar terpaksa memberikan Kota Malang pada Belanda, namun suatu saat nanti, Malang pasti akan direbut kembali oleh kami. Kami tak pernah putus asa, kami benar-benar percaya pada tangan-tangan berjiwa muda kami. Hingga suatu hari nanti, jiwa kami bersorak bahagia dengan nafas kami yang beralur tajam kebebebasan. Malang akan setia pada seruan “Merdeka!”.

4 thoughts on “Cerpen “Tangis Rindu Juang Pemuda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *