Cerpen “Surat Juru Bicara Presiden”

Surat Juru Bicara Presiden
Oleh: Cahya Muna Ramadhani

Tidak pernah aku duga, di umurku yang ke empat puluh tiga ini, aku akan merayakan hari ulang tahun Indonesia yang ke seratus tahun. Ya, dua jam lagi, aku harus berpidato dihadapan semuanya.

Anakku sedang menatap jendela ketika ada surat yang datang ke rumahku. Surat itu, dibungkus rapi dengan dibalut sehelai pita berwarna kuning yang membuat anakku terdorong untuk membukanya.

“Ibu, ada surat datang,” katanya seraya mendekat kepadaku, “Aku yang membukanya, ya?”
“Berikan pada ibu dulu,” jawabku lembut tetapi singkat.

Ia memberikan surat itu kepadaku. Sontak aku kaget, karena setelah aku melihat siapa yang mengirim surat ini. Ia adalah Rumy, teman lamaku yang berkebangsaan Amerika. Ah, sudah lama aku tak dengar kabar darinya.

Aku membuka bungkus suratnya. Anakku berada di sampingku untuk melihat isi dari surat ini, karena anakku tahu betul Rumy adalah siapa.

Kubuka suratnya, lalu kubaca:
Yang kusayangi, Syafa,
Dari Rumy McConaghuey,

Aku ingin menulis surat kepadamu. Mungkin kau akan bertanya, mengapa aku tidak memakai media sosial, atau yang lainnya. Tidak, aku tidak ingin. Yang kuinginkan adalah kita mengenang masa-masa dahulu, ketika kita bersenang-senang karena nostalgia kebahagiaan, bahwa di peringatan Hari Tanpa Tekhnologi pada tahun 2020 kita betul-betul menyenanginya. Kau masih ingat kan? Dan kuharap kau masih mengingatnya, karena, itu adalah kenangan terakhir kita.

Kau masih bingung ya, aku pergi kemana. Maaf, aku tak memberitahumu saat itu. Sekarang, aku dapat memberitahumu.

Aku ingin menanyakan kabarmu, sangat ingin. Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu. Ini karena kau adalah sahabat sejatiku. Walau jarak memisahkan dan perbedaan apapun yang kita miliki, itu tidak akan membuat kita merasa jauh. Kita ini sahabat sejati kan? Tentu saja kita berdua jelas menghargai seluruh keberagaman yang ada di antara kita.

Indonesia, adalah negeri yang paling aku cintai. Walau nyatanya, aku bukanlah warga negara dari negara itu. Percayalah kawan, aku tidak mencintai negara itu karena aku ingin memanfaatkannya secara buruk (baca: menjajah), layaknya orang asing lainnya, bukan. Itu karena rasa dihatiku, merasakan sesuatu yang membahagiakan disana. Kita membicarakan tentang bahagia memang. Kecintaanku pada Indonesia adalah kebahagiaanku. Aku benar-benar ingin kesana. Indonesia dulu, Indonesia sekarang. Hanya kemajuan kan, yang membedakannya?

Hahaha! Kalimat-kalimat diatas mengingatkanku pada kata-kata bijakmu, “Kau ini aneh sekali Rumy! Kenapa kamu terus berpikir absurd begitu? Berpikir seolah-olah bahagia menjadi tujuanmu saja! Kesalahan bila kamu berpikir bahagia itu dicari! Bahagia ada di sekitar kita!” Berkat kata-katamu itu, aku melihat kebahagiaanku. Aku benar-benar merasakannya.

Banyak hal yang sangat kurindukan pula di Indonesia. Hal itu semua ingin kusampaikan pada surat ini. Tetapi kau tahu, terlalu banyak hal yang bila semua kutulis disini, kau mungkin hanya akan melihatnya tanpa membacanya. Is that right?

Aku rindu kemacetannya, orangnya juga budayanya, semua. Orang-orang ramah sepertimu sangat sulit untuk ditemukan di negara manapun. Bahkan disini. Aku yakin, disini hanyalah tempat yang orang-orangnya sangat individualis, mementingkan dirinya sendiri. Mereka sangat berbeda dengan orang-orang sepertimu, yang peduli terhadap sesama manusia, bahkan makhluk hidup di sekitanya.

Tapi sayangnya, banyak hal juga yang ingin aku singgung bab masalah negara yang aku cintai ini. Indonesia mungkin bisa dibilang negara yang kaya, juga bisa sebaliknya. Pasalnya, Indonesia memang memiliki kekayaan yang luar biasa banyak akan alamnya. Tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, mungkin saja, ada pihak-pihak lain yang akan memanfaatkannya, mengambil secara paksa semuanya. Juga tentang politiknya, bila masih ada tikus-tikus negara alias para koruptor yang tidak punya akal itu, bagaimana jadinya Indonesia? Bagaimana kalau masih ada pembunuhan kejam terhadap anak, atau perdagangan manusia yang semakin menjadi-jadi? Tentu aku tidak ingin ini semua terjadi, juga dirimu. Katakan padaku, kawan, bagaimana kabar Indonesia?

Sekian suratku. Aku ingin kau membalas suratku, walau aku yakin kau akan sangat sibuk dan tak sempat untuk menulisnya.

Dan juga, titipkan salamku pada yang terkasih, Nadya, anakmu yang paling manis yang pernah aku temui. Atau tidak perlu kutitipkan, karena mungkin saja ia ada di sampingmu untuk membaca surat ini.

Juga aku ingin mengucapkan ulang tahun Indonesia yang ke seratus tahun ini, aku harap Indonesia semakin maju. Tidak kalah dengan negara yang lainnya. Aku juga merindukan perayaan ulang tahun Indonesia, kau tahu. Hal yang paling kusuka, adalah saat bendera sang saka merah putih dikibarkan dengan nyanyian Indonesia Raya. Juga tidak lupa, saat aku mendengar pembaca Pancasila mengumandangkan dasar negara Indonesia, itu juga merupakan hal yang aku rindukan di Indonesia.

Jayalah Indonesia, kuharap engkau bertambah maju akan ulang tahunmu yang ke seratus tahun.

Washington DC, 16 August 2045

Setelah membacakan itu, aku menutupnya. Aku hendak menangis, tapi aku berlagak tangguh dihadapan Nadya anakku.

“Jadi, dimana Om Rumy sekarang? Apakah di Washington? Lalu bekerja apa dia?” tanya Nadya dengan tiba-tiba.

“Ya, Nadya. Dia di Amerika. Dan kabar baiknya, ternyata dia adalah juru bicara presiden Amerika. Betapa hebatnya dia sekarang, ya.”

“Wow… hebatnya Om Rumy sekarang… aku salut padanya. Oh ya, apakah ibu akan membalas suratnya?”

“Aku tidak tahu, anakku. Aku takut aku tidak bisa. Para penyadap ada dimana-mana, sayang. Nantinya, ibu akan dikira bekerja sama secara buruk dengannya. Bukan hanya ibu yang terancam, sebenarnya Om Rumy juga akan terancam. Dan aku yakin, surat ini tentunya sudah disadap oleh mereka. Semuanya terlalu ketat. Padahal ibu tidak memerintahkan seperti itu. Semua tergesa-gesa dihakimi. Semua cepat curiga.”

“Iya bu, aku tahu sekarang. Tanggungjawab ibu yang baru, membuat ibu lumayan kesusahan, ya,” Nadya berkata.

“Bisa dibilang seperti itu. Kenyataannya, Om Rumy telah berbaik hati dengan mengirimkan surat itu pada kita, kan? Tetapi apa balasan kita? Hanya tanggapan akan kerinduan yang tak tertulis. Lalu bagaimana Om Rumy bisa mengetahui kalau kita sudah membacanya, hendak memberi kabar padanya tetapi tak sanggup menulis karena ketatnya negara. Kerinduan yang hanya dipendam, justru akan membuat pikiran semakin berat, hingga akupun melakukan pekerjaanku dengan tidak nikmat,” jawabku.

“Iya ibu, aku tahu, persoalan apa yang membuat ibu berpikir seperti itu,” lanjutnya, “oh ya, bukannya ibu harus pergi sekarang? Mobil besar itu akan menjemput ibu loh.. aku tahu ibu memang tidak suka naik mobil besar itu..,” kata Nadya lalu dia tertawa. Wah, gemar betul ia membuatku tertawa.

“Hahahaha… mobil besar itu membuatku tak bisa bernapas lega karena pengap, kuharap kau tahu maksud ibu.”

“Ibu mau naik sepeda ontel lagi ya? Jaman sekarang hanya ada 1 atau 2 ontel di Indonesia!”

Kami tertawa terbahak-bahak.

Saatnya aku harus bersiap diri untuk keluar dari rumah sederhana yang nyaman ini. Nadya lalu mengucapkan salam dan salim kepadaku, dan saat aku keluar, aku melihat mobil besar itu terparkir di hadapanku.

Ah, saatnya aku bersiap-siap menuju tempat berpidato di istana kepresidenan. Aku telah menyiapkan bahan untuk berpidato. Hanya saja, aku masih belum mempunyai solusi untuk membalas surat dari Rumy.

Selamat ulang tahun Indonesia, kuharap kau jaya selalu.

12 thoughts on “Cerpen “Surat Juru Bicara Presiden”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *